Kamis, November 5, 2026
spot_img
BerandaBeritaKarhutla di Muara Badak Bakar 7 Hektare Lahan, Pemadaman Dibantu Water Bombing

Karhutla di Muara Badak Bakar 7 Hektare Lahan, Pemadaman Dibantu Water Bombing

Kutai Kartanegara — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Jalan Ayeq Apui RT 01, Desa Budaya Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Sabtu (12/9/2026). Kebakaran melanda area yang didominasi semak belukar, rawa gambut, hingga kawasan hutan.

Luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 7 hektare. Kondisi lahan yang sebagian berada di kawasan rawa gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus dan melibatkan sejumlah unsur.

Informasi mengenai adanya titik panas pertama kali diterima petugas dari masyarakat. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek Muara Badak IPTU Sumartono, S.H., bersama personel langsung menuju lokasi untuk mengecek kondisi sekaligus melakukan penanganan awal terhadap kebakaran.

Setelah tiba di lokasi, petugas mendapati api telah membakar sejumlah bagian kawasan yang terdiri atas semak belukar dan lahan gambut. Kobaran api kemudian ditangani secara bersama-sama guna mencegah penyebaran ke area yang lebih luas.

Penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, Damkar Muara Badak, BPBD Kutai Kartanegara, Damkar Sungai Siring, Damkar Bandara APT Pranoto, tenaga kesehatan, PMI, hingga masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Kapolsek Muara Badak mengatakan, keterlibatan berbagai unsur diperlukan karena kondisi medan di lokasi kebakaran cukup sulit. Sejumlah titik api berada di kawasan rawa sehingga kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau seluruh area yang terbakar.

Selain kendala akses, karakteristik lahan gambut juga menjadi perhatian petugas. Api yang terlihat padam di permukaan masih berpotensi menyisakan bara di bawah tanah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan api kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

“Kami bersama seluruh unsur terkait terus melakukan pemadaman dan pendinginan. Lahan gambut memiliki karakter yang sulit dipadamkan sehingga harus ditangani secara menyeluruh, termasuk pada titik-titik yang berada di dalam rawa dan sulit dijangkau melalui jalur darat,” ujar IPTU Sumartono.

Untuk membantu menjangkau bagian kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat, tim memperoleh dukungan helikopter water bombing dari Bandara APT Pranoto. Pesawat tersebut digunakan untuk menjatuhkan air dari udara ke sejumlah titik yang masih terbakar.

Operasi pemadaman dari udara dilakukan sebagai upaya pendukung terhadap penanganan yang dilakukan petugas di darat. Di lokasi, sejumlah unit pemadam dan mobil tandon air juga dikerahkan untuk melakukan penyiraman serta pendinginan terhadap area yang telah terbakar.

Hingga sekitar pukul 18.00 WITA, petugas berhasil mengendalikan kurang lebih 90 persen area yang terbakar. Kendati demikian, masih ditemukan satu titik api di tengah kawasan rawa gambut yang belum sepenuhnya dapat dijangkau dan masih dalam proses penanganan.

Petugas kemudian melanjutkan proses pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar terkendali. Pemantauan juga dilakukan secara berkala guna mengantisipasi munculnya kembali bara api di kawasan yang sebelumnya telah dipadamkan.

Dalam kejadian tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Meski demikian, petugas tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan yang terbakar berpotensi menyimpan bara dan dapat kembali memicu kebakaran apabila tidak dilakukan pendinginan secara optimal.

Kapolsek Muara Badak mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya ketika kondisi cuaca panas, vegetasi mengering, dan angin cukup kencang. Faktor-faktor tersebut dapat mempercepat penyebaran api apabila kebakaran tidak segera ditangani.

“Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila melihat adanya titik api. Pencegahan jauh lebih efektif daripada membiarkan api berkembang, terlebih di kawasan gambut yang penanganannya membutuhkan waktu dan upaya lebih besar,” tegasnya.

Menurutnya, laporan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam mempercepat respons terhadap kemunculan titik api. Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.

Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, petugas pemadam, unsur kesehatan, relawan, dan masyarakat juga dinilai menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla. Kolaborasi tersebut memungkinkan pemadaman dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik dari darat maupun udara.

Penanganan kebakaran di Muara Badak sekaligus menunjukkan tantangan yang dihadapi petugas ketika karhutla terjadi di kawasan dengan karakteristik medan yang sulit. Selain memadamkan kobaran api, petugas harus memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran susulan.

Dengan masih adanya titik api yang berada di kawasan rawa gambut, pemantauan dan pendinginan akan terus dilakukan hingga kondisi dinyatakan aman. Masyarakat sekitar juga diharapkan tetap memberikan informasi apabila kembali melihat asap atau titik api di sekitar kawasan tersebut.

Upaya pencegahan dinilai tetap menjadi langkah utama dalam menghadapi ancaman karhutla. Kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan serta segera melaporkan kejadian dapat membantu mengurangi risiko kebakaran meluas, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments